Beranda > Lembar Kajian > APA YANG KAU CARI INSAN PERS INDONESIA?

APA YANG KAU CARI INSAN PERS INDONESIA?

Kebebasan pers merupakan salah satu ciri negara demokratis yang sangat vital. Dimana di dalamnya terdapat unsur kebebasan berpendapat yang di Indonesia diatur dalam konstitusi tertulis kita Undang-undang dasar 1945 pasal 27. Undang-undang Pers pun dibentuk demi menjamin kemerdakaan pers dalam melaksanakan fungsi sosial kontrolnya. Namun masalah muncul dalam perkembangannnya. Kemerdekaan Pers yang diagung-agungkan mulai melwati batas-batas norma dalam masyarakat. Insan pers tidak segan masuk ke ranah privat demi mengejar rating semata. Mereka juga dengan sadar “mengarahkan” opini masyarakat. Apa yang tengah terjadi dalam dunia pers Indonesia? Bagaimana pilihan yang lebih bijak, kebebasan atau pembatasan? Diskusi Rutin LK2 tanggal 4 Maret 2010 mencoba mengurai identitas pers yang sesuai dengan identitas and kebutuhan rakyat Indonesia.

Pembahas Dirut kali ini, Reza Alfiandri mengawali diskusi dengan penjabaran singkat mengenai Pers di Indonesia dan mesyarakatnya. Pengertian Pers sesuai pasal 1 butir 1 UU. No 40 Tahun 1999, Pers adalah lembaga sosial dan lembaga komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia. Tercantum lebih lanjut dalam Pasal 4 Ayat (2) dan (3) UU No. 40/1999 beserta penjelasannya, yang pada intinya menyatakan pers bebas dari tindakan pencegaham, pelarangan dan atau penekanan dalam upaya mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi. Kode Etik Wartawan Indonesia pun mambatasi gerak Pers dengan nilai-nilai dan asas-asas yang ditujukan pada hati nurani pengemban profesi wartawan itu sendiri. Namun ia mempertanyakan peran peraturan yang tidak efektif dalam menjaga lembaga pers agar tidak terlalu jauh menggiring opini publik dan memberitakan berita yang tidak memiliki dasar fakta.

Setelah bahasan selesai disampaikan, tanggapan-tanggapan muncul satu demi satu. Dimulai dari pendapat salah satu peserta yang menyatakan bahwa saat ini peran Pers Indonesia telah cukup baik. Jika mengingat peran pers sebagai alat kontrol sosial, maka menggirng opini publik sudah sewajarnya dilakukan oleh Pers. Peserta lain yang berpendapat sama mengatakan bahwa yang penting adalah kebenaran fakta dalam substansi berita. Apabila ada suatu pihak yang merasa dirugikan kepentingannya oleh pemberitaan pers dapat mengklarifikasi pemberitaan menyangkut dirinya untulk kemudian ditayangkan media yang bersangkutan. Hal itu telah merupakan  asas jurnalistik yang mengakomodasi hak jawab. Beberapa peserta mengamini hal itu dengan contoh sejarah pers Indonesia yang menunjukkan bahwa pers yang dikekang tidak dapat menunjukkan perannya sebagai kontrol sosial.

Sebagian peserta lain berpendapat bahwa pembatasan bagi Pers masih sangat dibutuhkan. Peran pers yang terlalu bebas tentu akan menjadi bumerang bagi pendidikan politik dan demokrasi masyarakat. Pemberitaan yang tidak berimbang, disertai dengan fakta-fakta yang tidak selektif tentu sangat tidak mendidik. Bagi masyarakat perkotaan yang lebih terpelajar tentu tidak masalah untuk memilah-milah produk jurnalistik yang baik dan yang hanya mengejar sensasi belaka. Namun untuk masyarakat yang taraf pendidikannya masih kurang, pemberitaan yang tidak berimbang dan tidak berdasar fakta tentu akan diterima mentah-mentah.

Posisi pers Indonesia yang kini telah menjelma menjadi industri juga tak luput dari sorotan peserta dirut. Kepentingan pemilik modal kini tarik menarik dengan etika jurnalistik. Persaingan di antara media pers juga tak dapat dihindari di era reformasi ini. Persaingan ini tentu dapat berujung hal yang positif maupun negatif. Persaingan yang ketat menyebabkan media harus bersaing untuk memberitakan fakta-fakta yang disampaikan secara akurat dan berimbang. Namun hal itu hanya dapat dipenuhi apabila masyarakat telah cukup cerdas untuk memilah-milah media yang baik dan yang sekedar mencari sensasi. Untuk masyarakat Indonesia, mungkin hal itu masih cukup jauh dari realita. Jika masyarakat tidak cukup cerdas, maka persaingan di antara media pers justru dapat menimbulkan efek negatif. Media berlomba untuk mencari berita sensasional hanya berdasarkan asumsi tidak berdasar.

Sebagian besar peserta tidak keberatan dengan kebebasan pers. Namun bentuk peraturan tertulis yang mengatur peran pers dan menjaga kenetralan pers agar tidak berpihak pada kepentingan politik maupun kepentingan pemilik modal. Penguatan lembaga Dewan Pers yang selama ini telah ada menjadi salah satu paling realistis pada masa kini. Diharapkan dengan keberadaan Dewan Pers yang lebih kuat, maka peran pers sebagai alat kontrol social akan lebih nyata di masa yang akan datang. Jalan keluar lain yang secara paralel harus dilakukan adalah pencerdasan masyarakat. “Dengan mencerdaskan masyarakat, maka akan mencerdaskan pers, karena masyarakat kini telah mengambil bagian dalam pers dan pers adalah bagian dari masyarakat” ujar salah satu peserta.

Seperti biasa, diskusi rutin tidak pernah dapat menemukan kesimpulan. Kebebasan berpendapat yang diusung oleh diskusi rutin LK2 memungkinkan peserta pulang dengan kesimpulan masing-masing.  Namun satu hal yang manjadi oleh-oleh peserta saat pulang ialah bahwa peran pers sangat penting dan usaha untuk memajukan pers Indonesia adalah tanggung jawab segenap lapisan masyarakat

unduh Lembar Kajian ini selengkapnya di

http://www.4shared.com/file/238251270/3622caa5/Lembar_Kajian_3_Apa_Yang_Kau_C.html

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: