Beranda > Lembar Kajian > Momentum yang Kembali Hadir : Saatnya Reformasi Kepolisian !

Momentum yang Kembali Hadir : Saatnya Reformasi Kepolisian !

Oleh Muhamad Reza Alfiandri

Manajer Bidang Kajian Ilmiah Lembaga Kajian Keilmuan

Fakultas Hukum Universitas Indonesia

Dunia hukum Indonesia kembali diuji dengan terungkapnya dugaan sejumlah perwira tinggi Markas Besar Polri terlibat sebagai makelar kasus (markus) dalam kasus pengusutan pidana pajak yang melibatkan uang senilai Rp 24,6 miliar. Aktornya adalah Susno Duadji yang mengungkapkan dugaan tersebut kepada publik Indonesia. Indikasinya terlihat dalam penanganan kasus Gayus Halomon Tambunan, seorang pegawai Direktorat Jenderal Pajak yang memiliki rekening Rp 24,6 miliar. Pegawai yang dijerat dengan delik penggelapan dana pajak dan pencucian uang ini akhirnya divonis bebas oleh Pengadilan Negeri Tangerang.

Kasus ini bermula dari penyidikan kepolisian terhadap Gayus atas dugaan pencucian uang dan penipuan. Kasus Gayus ini diawali laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yang mencurigai sejumlah transaksi senilai Rp 25 miliar di rekening staf penelaah keberatan dan banding Direktorat Jenderal Pajak tersebut. Kasus ini kemudian dilanjutkan ke pengadilan dan berujung pada vonis bebas majelis hakim. Putusan tersebut janggal karena Gayus sebetulnya tidak bisa menjelaskan asal-muasal uang di rekeningnya dengan jelas. Bukan hanya hakim yang patut dicurigai, karena penanganan kasus ini sudah janggal sejak tahap penyidikan. Kabarnya setelah ditangani oleh Mabes Polri kasus yang terungkap hanyalah penggelapan pajak sebesar Rp 370 Juta.

Gayus Tambunan adalah salah satu pegawai golongan III-A di Direktorat Jenderal Pajak yang berpenghasilan total Rp 12 Juta per bulannya. Nama Gayus belakangan menjadi sorotan setelah Mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri, Komisaris Jenderal Susno Duadji, menyebutkan ada makelar kasus perpajakan yang melibatkan sejumlah perwira di kepolisian. Susno menuding kasus itu sengaja tak dilanjutkan setelah barang bukti uang yang sempat diblokir dalam rekening Gayus dibagi-bagi oleh penyidik. Walaupun kasusnya kini masih dalam proses dan baru muncul dugaan-dugaan yang belum pasti kebenarannya tuduhan ini jelas tidak main-main karena datang dari mantan Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI yang pernah menangani kasus Gayus.

Borok di lembaga kepolisian sebetulnya sudah tercium bahkan ketika kasus Bibit-Chandra mencuat. Susno Duadji yang menjadi aktor antagonis pada waktu itu dikabarkan menerima uang dari Boedi Sampoerna sebesar Rp 10 miliar yang hingga kini bahkan belum diusut kebenarannya sampai tuntas. Selain itu juga banyak sekali laporan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan yang mencurigai rekening sejumlah pejabat kepolisian yang janggal. Bahkan salah satunya memiliki rekening di atas Rp 300 Miliar. Terlepas dari apakah itu memang uang hasil bisnis dan sebagainya, laporan seperti ini seharusnya diusut secara mendalam jangan sampai dibiarkan dan menimbulkan kecurigaan yang semakin besar.

Kasus Bibit-Chandra seharusnya dijadikan remunerasi dan evaluasi terhadap lembaga kepolisian. Kasus yang melelahkan tersebut jangan sampai menjadi mubazir lantaran tidak adanya kelanjutan perbaikan pada negeri ini. Kasus yang memiliki human power yang luar biasa besarnya tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik oleh negeri ini untuk melakukan reformasi kepolisian di Indonesia. Bahkan pakar hukum pidana Fakultas Hukum Universitas Indonesia Rudi Satrio sampai menggunakan istilah revolusi kepolisian. Ini menunjukkan betapa besarnya atensi masyarakat terhadap institusi Polri.

Memang beberapa pakar dan pengamat sempat memunculkan isu reformasi kepolisian. Akan tetapi pada akhirnya sejak kasus Bibit-Chandra itu berakhir tidak ada upaya lebih lanjut untuk memperbaiki institusi melalui reformasi. Sampai pada akhirnya kembali mencuat kasus Gayus Tambunan yang walaupun belum terbukti keterlibatan pejabat tinggi Polri terhadap kasus tersebut tetapi hendaknya kelak dapat dijadikan momentum untuk mereformasi institusi. Jangan sampai nantinya muncul kembali kasus-kasus yang sama terhadap Polri dengan tuduhan yang juga sama yakni penyuapan dan semacamnya.

Dalam hal ini juga kita harus menyoroti Komisi Kepolisian Nasional yang perannya harus lebih dioptimalkan. Fungsi pengawasan dari Kompolnas seharusnya dibarengi pula oleh kewenangan untuk menyelidiki karena kepolisian sebagai lembaga penegak hukum harus diawasi semaksimal mungkin karena rentan akan penyalahgunaan wewenang, penyuapan dan sebagainya. Oleh sebab itu inilah saatnya Kompolnas diberikan wewenang yang lebih dari sekedar mengawasi dan memberi rekomendasi kepada presiden saja tetapi juga menindak apabila ada oknum kepolisian yang terindikasi melanggar.

Sejauh ini Kompolnas terkesan hanya sebagai lembaga pelengkap saja karena tugas dan wewenangnya yang hanya mengawasi dan memberi saran kepada presiden. Padahal dengan munculnya kasus-kasus seperti ini yang melibatkan pejabat tinggi kepolisian terbukti bahwa peran dari Kompolnas sebagai lembaga yang berwenang untuk mengawasi begitu lemah karena posisinya yang hanya sebagai pemberi rekomendasi kepada presiden. Sudah saatnya Kompolnas pun dievaluasi kinerjanya agar jangan sampai keberadaan lembaga ini menjadi mubazir karena tidak memiliki fungsi yang jelas.

Tentu reformasi pada institusi kepolisian harus dibarengi oleh niatan presiden untuk melakukannya karena presiden lah yang dapat menentukan arah kebijakan tersebut. Dengan adanya kemauan dari presiden untuk memanfaatkan momentum ini sebagai kesempatan untuk mengubah dan memperbaiki kepolisian niscaya masyarakat pun akan menerima. Jangan sampai tidak ada remunerasi atas kerja keras mengusut kasus yang melibatkan oknum kepolisian seperti ini lagi. Saya mengangkat isu ini karena memang sudah saatnya masyarakat Indonesia melihat perbaikan. Ini semata-mata karena masayarakat Indonesia merasa memiliki institusi kepolisian sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Dalam hal ini peran dari internal kepolisian pun sangat dibutuhkan. Kapolri Jendral Bambang Hendarso Danuri diharapkan memiliki inisiatif untuk membersihkan institusi kepolisian dari oknum-oknum yang merusak citra kepolisian di mata masyarakat. Sudah saatnya kini penyelidikan terhadap dugaan praktek makelar kasus di tubuh kepolisian diungkap dan dibabat sampai habis. Itupun kalau memang Kapolri peduli terhadap institusi yang dipimpinnya sendiri. Jangan sampai laporan dari Komjen. Susno Duadji membuat Polri kelabakan dan mencari-cari cara untuk menutupi dan mengalihkan perhatian kepada pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh Susno. Yang harus disoroti adalah laporannya biarlah pelanggaran kode etik Susno diurus dalam internal kepolisian saja, jangan sampai malah pelanggaran itu yang dibesar-besarkan karena yang lebih penting adalah laporan dugaan korupsi dalam tubuh kepolisian.

Pesan yang ingin disampaikan adalah setelah kemarin institusi kepolisian disorot begitu tajam dalam kasus Bibit-Chandra, yang seharusnya dijadikan momentum tepat untuk mereformasi kepolisian dan pada akhirnya malah tidak ada upaya ke arah sana, kini dengan kembali munculnya kasus Gayus Tambunan yang melibatkan lagi kepolisian sudah seharusnya isu reformasi kembali diangkat. Tujuannya adalah agar di kemudian hari tidak terulang lagi kasus-kasus seperti ini yang melibatkan institusi kepolisian lagi dengan kasus yang juga sama.

Masyarakat lelah mengurusi masalah kepolisian yang kasusnya tidak jauh berbeda dan itu-itu saja. Inilah saatnya perbaikan. Masyarakat tentunya tidak ingin lagi di kemudian hari melihat makelar-makelar kasus di kepolisian, calo-calo SIM dan STNK, oknum Polisi Lalu Lintas yang menerima sogokan tilang, dan sebagainya. Tidak usah lagi di kemudian hari bersusah-payah dan mencurahkan perhatian kepada kasus-kasus dalam internal kepolisian seperti ini. Masih banyak hal yang mesti diurusi demi kemajuan bangsa Indonesia. Mari mereformasi kepolisian!

unduh Lembar Kajian ini selengkapnya di http://www.4shared.com/file/251243446/347fed8e/Lembar_Kajian_5_Momentum_yang_.html

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: