Beranda > Lembar Kajian > REVITALISASI INDUSTRI STRATEGIS PERTAHANAN NASIONAL

REVITALISASI INDUSTRI STRATEGIS PERTAHANAN NASIONAL

Revitalisasi industri strategis pertahanan nasional merupakan suatu hal yang mutlak harus dilakukan oleh setiap negara yang ingin berkembang dan tumbuh sebagai bangsa mandiri yang memiliki dan bertumpu pada industri pertahanan  nasionalnya sendiri. Indonesia tentu salah satu negara yang harus bergerak dan mengambil langkah untuk melakukan proses revitalisasi bagi industri pertahanan nasionalnya. Hal ini perlu digalakkan sesegera mungkin apabila Indonesia masih ingin konsisten bercita-cita menjadi bangsa yang bermartabat dan punya harga diri di mata dunia. Diskusi rutin LK2 pada tanggal 22 April 2010 mencoba menguraikan bagaimana keadaan sektor industri strategis pertahanan nasional dewasa ini ataupun usaha revitalisasinya.

Pada diskusi rutin LK2 kali ini diawali oleh pembicara Gede Aditya Pratama  yang memaparkan keadaan sejauh mana kemandirian industri dalam negeri, bahwa kita sebetulnya boleh berbangga  memiliki PT.PAL, PT.PINDAD, PT Dahana, dan PT DI yang notabene adalah Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS). Adapun penyaji kemudian  membahas kondisi beberapa perusahaan tersebut pada masa ketika dan pasca krisis moneter yang pernah melanda, serta kelanjutan revitalisasinya di masa sekarang. Pada kesesematan ini penyaji pun menyertakan profil singkat dari beberapa Badan Usaha Milik Negara Industri Strategis (BUMNIS) dan non- BUMNIS.

Masuk ke sesi diskusi, beberapa peserta mulai memberikan tanggapan terhadap materi yang diangkat. Muncul tanggapan seorang peserta yang mengatakan bahwa peran dan  dukungan dari masyarakat itu sendiri kurang terlihat dalam proses penyuksesan industri pertahanan nasional. Peserta lain kemudian menambahkan bahwa seharusnya pemerintah membuat kebijakan yang menyokong industri tersebut. Jadi, pemerintah tidak lepas tangan dan melakukan usaha yang bersifat kontinu serta berkesinambungan dalam proses menyehatkan kembali sektor industri ini.

Adapun pembicara kemudian mencoba memberikan tanggapan balik terhadap respon-respon peserta. Dikatakan bahwa untuk kepentingan industri pertahanan sudah terdapat lahan milik ABRI yang bisa digunakan untuk mendukung aktivitasnya. Lebih lanjut dikatakan bahwa hampir di beberapa negara pasti terdapat individu yang berkecimpung dalam masalah-masalah tersebut. Negara tentunya membutuhkan peran lebih dari masyarakat yang mau ikut berpartisipasi dalam penyuksesannya. Sebagai contoh misalnya mencintai dan mempromosikan produk-produk hasil industri pertahanan dalam negeri seperti senjata, atau menciptakan sumber daya manusia yang mumpuni yang dapat menjelma menjadi ahli-ahli khusus di bidang pengetahuan dalam persenjataan. Hal ini akan menjadi sebuah keuntungan tersendiri bagi negara, dan di kemudian hari kita bisa sepenuhnya bertumpu pada perkembangan ilmu pengetahuan yang memang didukung oleh sumber daya manusia dalam negeri itu sendiri, tidak lagi berasal dari luar negeri yang tentunya harus merogoh biaya lagi.

Tak lama berselang waktu muncul juga tanggapan dari peserta lain yang berpendapat bahwa sebetulnya peran masyarakat dalam men-support juga berpartisipasi dalam sektor ini masih terasa atensinya. Hanya saja sebagian besar masyarakat memang masih beranggapan bahwa barang-barang impor dari luar negeri masih lebih baik dari produk dalam negeri. Disinilah justru peran pemerintah yang diharapkan lebih dalam mensupport  pertumbuhan industri tersebut.

Lebih lanjut peserta lain ada yang menambahkan bahwa Indonesia dianggap  masih belum mampu membuat produk dengan baik. Apabila berniat untuk memproduksi sendiri maka itu berarti mesin yang akan digunakan untuk memproduksi masih harus berasal dari luar negeri. Sedangkan di sisi lain membeli barang yang sudah jadi dari dari luar negeri maka jatuhnya akan jauh lebih mudah, ketimbang pilihan yang telah disebutkan sebelumnya tadi.

Lagi-lagi peserta diskusi ada yang berpendapat bahwa peran pemerintah memang sangat berpengaruh besar dan diharapkan lebih dalam usaha revitalisasi ini. Pemerintah harus lebih memberikan jalan bagi perkembangan industri ini. Sehingga industri pertahanan nasional ini nantinya akan memberikan manfaat jangka panjang bukan semata-mata efek jangka pendek yang hanya memberikan keuntungan sesaat namun tidak memberikan keuntungan berkesinambungan bagi dalam negeri itu sendiri di masa depannya.

Diskusi kemudian  berlanjut saat penyaji berpendapat bahwa dana untuk alusista masih kecil. Lebih lanjut dikatakan bahwa problematika sebenarnya bukan terletak pada masalah anggaran, tetapi koordinasi proyek jangka panjang atau dalam hal ini kebijakan-kebijakan yang bersifat pengaturan untuk kurun waktu ke depannya. Karena faktanya yang terjadi hanyalah wujud dari proyek jangka pendek yang sudah barangtentu pada akhirnya akan berbenturan lagi dengan masalah klise anggaran.

Sektor Industri terdiri dari industri hilir dan industri hulu. Industri hulu diharapkan bisa tumbuh kuat dan kemudian dapat membantu juga perkembangan sektor industri hilir nantinya. Diumpamakan dengan contoh, misalkan apabila PT.DI bisa ‘hidup sehat’ maka akan berimbas pada sektor industri hilir yang bisa meningkat kemajuannya. Pendapat lain kemudian muncul bahwa hingga sekarang, strategi proteksi dari pemerintah dianggap masih belum terasa eksistensinya. Adapun muncul pendapat lagi dari peserta diskusi yang mengatakan pentingnya kesadaran  masyarakat untuk berperan aktif ‘menghidupkan’ sektor ini. Misalnya dengan meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menguatkan sektor pertahanan selain mengikuti pendidikan formal lainnya. Seorang peserta diskusi pun mengungkapkan bahwa sejauh ini Indonesia masih menganggap sektor industri adalah sebuah kemewahan bukanlah suatu kebutuhan yang notabene harus dipenuhi.

Diskusi rutin memang bukan mencari kesimpulan, karena budaya diskusi memang dibangun sebagai wadah penyaluran pendapat dari isi kepala yang berbeda-beda. Namun tentu semua peserta sepakat akan satu hal, bahwa upaya revitalisasi industri strategis pertahanan nasional merupakan suatu kewajiban bagi negara yang ingin berdiri di atas kaki sendiri.

Unduh Lembar Kajian ini selengkapnya di

http://www.4shared.com/document/iQYpJ_50/Lembar_Kajian_9_Revitalisasi_i.html

Kategori:Lembar Kajian
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: